rifahradhiyati.com - Bukan Penentu Kelulusan! 5 Fakta Mengejutkan tentang TKA, Asesmen Baru di Sekolah - orang tua dan siswa, proses seleksi masuk sekolah sering kali menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika hanya mengandalkan nilai rapor. Perbedaan standar penilaian antar sekolah dapat menciptakan rasa ketidakadilan, di mana dua siswa dengan nilai sama belum tentu memiliki kemampuan akademik yang setara. Menjawab tantangan ini, pemerintah memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai sebuah asesmen terstandar.
Namun, TKA bukanlah sekadar Ujian Nasional dengan nama baru. Asesmen ini membawa perubahan paradigma yang fundamental dengan sejumlah fakta mengejutkan yang berbeda dari ujian-ujian sebelumnya. Alih-alih menjadi momok penentu kelulusan, TKA dirancang untuk tujuan yang lebih besar dan adil. Mari kita bedah lima fakta penting yang wajib Anda ketahui tentang TKA.
1. Poin Paling Krusial: TKA Bukanlah Ujian untuk Menentukan Kelulusan
Inilah perubahan paling mendasar dan penting untuk dipahami: TKA tidak berfungsi untuk menentukan apakah seorang siswa lulus dari jenjang pendidikannya atau tidak. Fungsi ini berbeda total dengan ujian nasional di masa lalu yang menjadi syarat kelulusan. Penentuan kelulusan siswa sepenuhnya tetap menjadi wewenang guru dan sekolah masing-masing.
Hal ini ditegaskan secara eksplisit dalam dokumen resmi kerangka asesmen TKA:
TKA bukanlah evaluasi untuk menentukan kelulusan murid dari satuan pendidikan. Evaluasi penentuan kelulusan murid tetap menjadi kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.
Fakta ini sangat krusial karena secara signifikan mengurangi tekanan psikologis yang biasanya membebani siswa menjelang ujian akhir. Fokus pendidikan dapat dikembalikan pada proses pembelajaran yang mendalam, bukan sekadar mempersiapkan diri untuk lulus dari sebuah ujian berisiko tinggi.
2. Mengatasi "Standar Ganda": TKA Dirancang untuk Seleksi yang Lebih Adil
Salah satu masalah utama dalam sistem seleksi yang hanya berbasis rapor adalah nilai yang tidak terstandar. Seperti yang dijelaskan dalam latar belakang TKA, "Dua murid yang mendapat nilai yang sama belum tentu memiliki tingkat penguasaan atau kemampuan akademik yang sama." Murid dari sekolah dengan standar penilaian yang lebih ketat bisa jadi dirugikan saat bersaing dengan murid dari sekolah yang standarnya lebih longgar.
TKA hadir sebagai solusi untuk masalah ini. Sebagai sebuah tes terstandar, TKA menyediakan skor yang objektif dan dapat diperbandingkan secara adil antar siswa, terlepas dari sekolah asal mereka. Tujuannya adalah menciptakan proses seleksi yang lebih adil dan transparan, di mana setiap siswa memiliki kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan akademiknya.
3. Mengejutkan! TKA Hanya Menguji Dua Mata Pelajaran Fundamental
Berbeda dengan ujian nasional yang menguji banyak mata pelajaran, TKA secara sengaja memfokuskan asesmennya hanya pada dua bidang kompetensi inti, yaitu Bahasa Indonesia dan Matematika.
Pilihan ini bukan tanpa alasan.
- Bahasa Indonesia difokuskan pada keterampilan membaca (teks informasi dan fiksi). Kemampuan membaca dipandang sebagai "fondasi untuk terus belajar" dan esensial untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan lainnya.
- Untuk Matematika, TKA mengukur kemampuan yang komprehensif—mulai dari pemahaman fakta, konsep, dan prosedur hingga penerapan pengetahuan tersebut untuk memecahkan masalah (problem solving) secara nalar.
Dengan fokus pada dua mata pelajaran fundamental ini, TKA mendorong penguatan kompetensi dasar yang paling krusial bagi keberhasilan akademis siswa di jenjang selanjutnya, beralih dari sekadar hafalan materi ke penguasaan nalar dan pemahaman.
4. Bukan Sekadar Pilihan Ganda Biasa: Format Soal yang Menguji Kemampuan Berpikir Kritis
Lupakan soal yang hanya bisa dijawab dengan menebak. TKA dirancang untuk mengukur pemahaman yang lebih dalam dengan menggunakan tiga bentuk soal yang lebih modern dan bervariasi:
- Pilihan Ganda Sederhana: Bentuk soal klasik di mana hanya ada satu jawaban yang benar dari beberapa pilihan.
- Pilihan Ganda Kompleks (PGK) MCMA: Pada soal ini, terdapat kemungkinan lebih dari satu pilihan jawaban yang benar. Siswa harus memilih semua opsi yang mereka anggap benar.
- Pilihan Ganda Kompleks (PGK) Kategori: Siswa diminta untuk menilai kebenaran beberapa pernyataan yang disajikan, misalnya dengan memilih "Benar/Salah" atau "Sesuai/Tidak Sesuai" untuk setiap pernyataan.
Variasi format soal ini tidak hanya dirancang untuk menguji kemampuan analisis dan berpikir kritis siswa, tetapi juga untuk menjadi model bagi para pendidik tentang cara menilai kompetensi tingkat tinggi (higher order thinking), seperti pemahaman konseptual dan pemecahan masalah.
5. Menjamin Hak Belajar: TKA Menjadi Jembatan bagi Pendidikan Nonformal dan Informal
Salah satu fungsi TKA yang sering terlewatkan adalah perannya dalam menjamin kesetaraan hak belajar. TKA berfungsi sebagai instrumen pengakuan hasil belajar bagi siswa dari jalur pendidikan nonformal (seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau kejar paket) dan jalur informal (seperti homeschooling).
Dengan mengikuti TKA, para siswa ini dapat memperoleh pengakuan resmi atas kesetaraan hasil belajar mereka yang terstandar secara nasional. Hal ini membuka pintu bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau memasuki dunia kerja dengan bukti kompetensi yang diakui, menyoroti aspek inklusivitas dalam sistem pendidikan nasional.
6. Melengkapi Peta Mutu Pendidikan Nasional
Selain berfungsi untuk siswa secara individu, TKA juga memiliki peran strategis dalam skala nasional, yaitu untuk pemetaan mutu pendidikan. TKA dirancang untuk melengkapi data dari Asesmen Nasional (AN). Jika AN memberikan gambaran mutu pendidikan secara agregat (rata-rata sekolah) tanpa melaporkan skor individu, TKA justru menyediakan data capaian akademik per individu yang terstandar.
Kombinasi data dari TKA dan AN memungkinkan pemerintah pusat dan daerah untuk mendapatkan peta mutu hasil belajar yang jauh lebih lengkap dan detail. Dengan demikian, kebijakan untuk perbaikan kualitas pendidikan dapat dirancang dengan lebih tepat sasaran dan berbasis data yang kuat.
Kesimpulan
Tes Kemampuan Akademik (TKA) menandai sebuah pergeseran paradigma penting dalam asesmen pendidikan di Indonesia. Ia beralih dari sebuah alat penentu kelulusan yang berisiko tinggi menjadi instrumen multifungsi yang berfokus pada keadilan seleksi, pengakuan kesetaraan belajar, dan penguatan kompetensi nalar. Lebih dari itu, dengan menyediakan data capaian individu, TKA menjadi pelengkap krusial bagi Asesmen Nasional dalam memetakan dan meningkatkan mutu pendidikan secara sistemik.
Dengan kerangka baru yang lebih berfokus pada pemahaman dan penalaran, mampukah TKA menjadi pemicu untuk benar-benar meningkatkan kualitas pembelajaran di seluruh Indonesia?
Baca juga
Persiapan SPMB 2026/2027: Apa Saja yang Perlu Diketahui Orang Tua dan Siswa?
Wajah Baru Pendidikan Indonesia: Menuju Pembelajaran Yang Bermakna, Berkesadaran dan Menggembirakan
.png)
0 Komentar